
Kumenunduk, terlihat olehku setiap titik hujan yang perlahan merembes ke tanah. Membasahi bumi berdebu yang rindu akan guyuran sang air. Tercium aroma khas tanah basah, segar, tak terhingga
Kutengadahkan kepala. Merasakan butiran-butiran air hujan dari langit.
“Ah !” Teriakku, “Sakit !” Air-air yang jatuh ke wajahku, benar-benar ku rasakan seperti jarum menusuk wajahku. “Aduh !”
Kutundukkan kembali kepalaku. Kini, air-air hujan itu mengenai bagian atas kepalaku. Setidaknya ini tidak lebih sakit dari pada mengenai wajahku.
Hujan. Ada apa dengan hujan ?
Menurutku itu bukanlah hal yang penting untuk dibahas. Hal yang sepele bin basi. “Aku ingat dia,” dia yang sangat mencintai hujan. Entah, aku tak habis pikir, apa yang membuatnya mencintai air-air langit yang bagiku hanya terasa sakit. Benar-benar aneh, aku tak pernah berpikir sekonyol itu.
It’s ok-lah jika seseorang menyukai pelangi, mungkin karena keelokan warnanya. Atau seseorang yang menyukai senja, karena suasana dan keindahan, Itupun hanya sebatas menyukai. Tapi dia cinta hujan…???
Apa karena hujan telah menumbuhkan semua tumbuhan ?
Ataukah, karena hujan memberi kesegaran luar biasa ?
Itupun kukira hanyalah alasan basi yang bukan merupakan sebuah jawaban.
Sekali lagi, dia cinta hujan. Hhh…terserahlah, itu haknya. Tapi rasa penasaran mencekam otakku untuk berpikir, ada apa dengan hujan ?
“Hujan mengingatkanku dengan orang yang ku sayang. Apa yang dia lakukan, apa yang dia rasakan.” Itulah jawaban yang terlontar darinya, saat aku bertanya tentang keanehannya mencintai hujan.
Perlahan, butiran air turun. Kali ini bukan berasal dari langit, tapi kelopak mataku. Aku mengingatnya. Mengingat seorang yang cinta dengan hujan.
Hujan, aku mengingatnya. Apakah ini berarti aku telah menjadi seorang pecinta hujan seperti dia ? Aku bisa merasakan bahwa hujan telah mengantarkan ingatan-ingatanku kepada orang yang ku sayang ?
Aku tak mau. Aku bukan pecinta hujan, dan aku tak kan pernah mencintai hujan untuk mengingat dia. Aku bukan pecinta hujan. Tapi hujan bukanlah sesuatu yang bisa kubenci. Hujan bukanlah sesuatu yang bisa kuusir. Dia datang dimanapun dan kapanpun. Aku tak bisa menyalahkan kehadirannya. Itu berarti, aku juga akan tetap teringat tentangnya ?
Air mataku mengalir bersama derasnya hujan. Karena tak seharusnya aku mencintai hujan, agar aku melupakan semuanya.
Kutengadahkan kembali kepalaku. Menahan rasa sakit di wajahku. “Tik…tik…” Hujan masih menyentuh keras wajahku. Rasanya memang sakit, tapi hebat, tak ada lagi air mata yang keluar dari mataku. “Aduh,” teriakku.
“Hahaha…!”
“Aku cinta hujan !”
Terbit by Kampus-Kita edisi Desember 2010
Hujan, Aku Mengingatnya
