Welcome Myspace Comments

Dengan ini kuciptakan sebuah persembahan... Semoga kalian suka... Cintai Budaya Membaca

Selasa, 08 Februari 2011

Game Anak


Dunia internet tak hanya mewabah ke dunia remaja atau dewasa. Kalangan anak-anak pun pnyumbang dari bagian itu. Tujuan mereka macam-macam. Namun, mayoritas adalah sebagai mainan baru yang seru, praktis, murah, dan tentunya hanya bagi mereka yang berduit.

Seperti halnya warnet di daerah Kediri. Per kota computer dipenuhi oleh anak-anak bermain game online. Dari menit ke menit hingga berjam-jam silih berganti pengguna antusias datang dan pergi hanya untuk ber-game online.
Tetapi tidak untuk bocah laki-laki bersepeda itu. Aku tak tahu siapa namanya. Berkali-kali aku melihatnya melintasi warnet disertai dengan kayuhannya yang semakin kuat. Ah jangan piker sepedanya itu bagus seperti sepeda anak pada umumnya. Dia memakai sepeda tua, butu, milik orang dewasa. (Bukan untuk penghinaan, tetapi sebagai kepentingan ilustrasi)

Umurnya baru sekitar sebelas tahunan. Kulitnya pekat dan yang kulihat selalu dihiasi keringat. Ia juga selalu membawa sesuatu di boncengan sepedanya. Ya. Selalu. Mungkin itu adalah rutinitasnya.
Tatapannya mantap ke depan, sambil diperkuat kayuhannya. Tetapi tidak ketika ia melewati sebuah warnet. Ia mengalihkan tatapan lurusnya untuk sejenak memandang ke arah anak-anak yang antusias ber-game online di warnet. Namun, bukan berarti ia melemahkan kayuhan sepedanya. Ia tetap mengayuh dengan sedikit senyuman di wajahnya.

Ada kesenjangan di sana. Tak semua orang bisa menikmati dunia internet. Contohnya bocah laki-laki tadi, bermain game online terpaksa harus tergadaikan oleh aktivitas beratnya. Ini realita yang ada. Game tradisional semakin tak dijumpai. Hilangnya semangat kebersamaan dalam kesederhanaan.

0 komentar:

Posting Komentar