Welcome Myspace Comments

Dengan ini kuciptakan sebuah persembahan... Semoga kalian suka... Cintai Budaya Membaca

Selasa, 08 Februari 2011

Senyuman Untuk Hujan



Suara gemericik air itu membangunkanku dari lamunan. Pandanganku yang mematung kini terbelalak melihat di hadapanku. “Ah, hujan, dia datang,” teriakku menyambutnya. Aku loncat kegirangan dengan sedikit menyentuhkan ujung-ujung jariku dengan tetesan-tetesan suci sang hujan.

“Hai, kau apa-apaan? Hujan datang saja kegirangan. Biasa saja, tak perlu lebay.” Gerutu kakak tingkatku, Kak Arya. Aku baru menyadari ia berada di sana se-jam lalu bersamaku. Kami terlalu menikmati keterdiaman, sehingga kebersamaan itu tak terasa. Ia masih cemberut. Tak beda dengan se-jam lalu, bahkan sekarang lebih cemberut. Kami jengkel, empat jam harus terpaksa menunggu seseorang untuk menjemput kami berdua menuju rumahnya. Teman Kak Arya, Abu.
“Sini Kak Arya, indah.” Kataku
“Indah apanya? Masih harus tiga jam lagi kita harus menunggu Abu, lalu apa yang bisa kita lakukan bila hujan turun?” cerocosnya kesal. Berulang kali, bangku yang didudukinya ia pukul keras. Tentu itu menyakitkan. Tapi itu tak lagi terasa bila ia sedang jengkel.

Aku beranjak dari tempat dudukku, berdiri dan perlahan mendekati hujan dengan penuh senyum.Aku tak memperdulikan Kak Arya lagi. Terlalu tidak penting untuk terus mengikuti arah emosinya.

“Hei Is, mau kemana?” tanyanya kaget melihat tingkahku yang sangat berbeda dengan beberapa menit lalu saat hujan belum mengguyur.
“Sebentar Kak, Isna pengen main hujan.” Jawabku singkat dan segera meluncur berhujan ria setelah sebelumnya melepas sepatu. Kak Arya memandangiku keheranan.

“Kak Arya, sini Kak.” Teriakku melawan suara hujan. Namun, ia menggeleng tanpa sedikitpun senyuman.
“Byurrr” Hujan pun semakin deras, dan aku semakin menikmati guyurannya. Dan kulihat bocah laki-laki, anak jalanan menghampiriku. Ia juga terlihat bahagia menikmati hujan. “Kak, main yuk,” ajaknya, tanpa ada momen perkenalan. Uluran tangan mungilnya kuraih. Aku tak memperdulikan kehadirannya adalah siapa selain karena kami sama-sama menikmati hujan.
Kami berdua pun bermain-main dengan air hujan. Saling memercikkan, berteriak, bahkan kami berlari-lari memutar tanpa tujuan. Tangan kami selalu terbuka untuk merasakan air itu benar-benar membasahi tubuh. Suara-suara tawa terus menghias.

***

Sesekali, kuperhatikan Kak Arya di kejauhan. Ia nampak memperhatikan keakraban kami terhadap hujan. Wajah cemberutnya kini berubah, tapi masih juga tanpa senyum. Hanya matanya melotot keheranan melihat kami. Tangannya ia dekapkan erat, menjaga kehangatan tubuhnya. Hujan membuatnya merasa kedinginan, dan bahkan ia selalu menghindar dari beberapa tetes air hujan yang terbawa angin ke arahnya.
Aku dan bocah ini masih tertawa-tawa. Tak ada lalu lalang pejalan kaki di sana. Mungkin mereka enggan menghampiri hujan walaupun untuk sekedar menyapa hadirnya. Kuperhatikan lagi Kak Arya. Ia sudah tak lagi mendekap tangannya. Perlahan, ia sentuhkan ujung telunjuknya pada percikan air di bangku yang di dudukinya. Disentuhnya sekali lagi, lagi, dan lagi. Tapi ia masih belum puas untuk percaya pada kelembutan hujan. Sekali lagi ia menyentuh, dan kali ini ia berhasil mempercayai hujan dengan sentuhan keinginannya untuk mendekati hujan.

“Huuuu!!!” Teriaknya meluncur mendekatiku dan bocah di dekatku ini. Ia melawan rasa dingin dengan sunggingan senyum di bibirnya. Aku dan bocah ini melongo kaget melihat Kak Arya. Ia memang menikmati hujan atau berpura-pura saja? Hatiku bertanya-tanya, dank u yakin bocah ini punya pertanyaan yang sama denganku.

“Hei, kenapa melongo? Ayo, kita main lagi.” Seru Kak Arya memercikkan air ke wajahku dan wajah bocah jalanan ini. Kami yang terkejut mengalah menemukan jawaban atas pertanyaan kami untuk kemudian menuruti keinginan Kak Arya bermain air hujan.

“Hahaha.” Kami bertiga tertawa bersama dalam suasana sangat ceria. Mencoba mengalahkan suara hujan yang semakin deras mengganggu pendengaran kami. Kami bergerak bebas, indah, dan semangat. Tak ada beban pikiran dan perasaan jengkel lagi.
Perlahan, Kak Arya mendekatiku dan berkata pelan,
“Thanks Is, you have show me the rain!” ditambah dengan senyum manisnya.
“Hmm, maksudnya?” aku sama sekali tak mengerti maksud perkataannya.
“Ya. Kamu bisa menunjukkan padaku, bahwa hujan pun juga indah.” Jelasnya lagi semakin ceria dalam senyumnya.
“Ok. That’s true, now please smile for rain, it has made you happy and cheerfull.” Jawabku menatapnya. Kami berdua saling tertawa bahagia dan puas, namun bocah jalanan di sampingku ini makin melongo dengan bahasa yang kami gunakan.

“Ok Boy, let’s enjoy the rain,” ajak Kak Arya menggandeng si bocah, dan menuntunnya menikmati guyuran hujan.
Aku bergumam pelan.
“Hujan, Kau membuatku, Kak Arya, dan bocah jalanan itu bahagia. Lain kali buat orang lain bahagia, dan terakhir, buatlah semuanya bahagia karena hadirmu.”

***


Hari ini akan menjadi esok
Dan sekarang akan menjadi nanti
Semua akan berlalu
Satu inginku…
Ingatlah aku dan hari ini
Aku tak ingin,
Hujan membuat masa ini berlalu kemudian hilang
Tapi…
Ingatlah hujan untuk mengingatku
Dan kau akan menemukanku
Seperti hari ini

By : Isna



Akan selalu kuingat
Butiran air hujan yang menggenangi tubuhku
Hujan akan menemani hari-hariku
Karena hujan itu adalah kamu

By : Arya

4 komentar:

  1. wah kalo hujan ya menyakitkan,,, gerimis baru asik ditmbah dngan pelangi,,, :)

    BalasHapus
  2. Dan pelangi takkan ada tanpa hujan :)

    BalasHapus
  3. cintaku tanpa sambutmu bagai panas tanpa hujan..,, wkwkwkwk

    BalasHapus
  4. hahaha...
    sang pecinta hujan vs sang pembenci hujan...

    BalasHapus