Welcome Myspace Comments

Dengan ini kuciptakan sebuah persembahan... Semoga kalian suka... Cintai Budaya Membaca

Sabtu, 26 November 2011

Bahagia dan Menderita



Entah apa yang dipikirkan orang-orang tentang kebahagiaan dan penderitaan. Mungkin aku juga bagiannya. Kita bisa menilai bahagia bila kita terlepas dari kata menderita. Sebaliknya, kita menderita bila tidak menjangkau apa itu bahagia.
Yang menjadi pokok pembahasan di sini adalah, kebahagiaan dan penderitaan itu tidak bisa dipandang secara obyektif. Ada yang kebahagiaannya diwakili oleh harta, kedudukan, jabatan, dsb. Ada yang diwakili oleh kehadiran keluarga saja. Kadarnya pun tak bisa diukur dengan grafik-grafik statistika. Ini semua terkait dengan kepuasan seseorang tentang apa yang diinginkannya.

Di dalam buku pula pernah dituliskan, bahwa bahagia itu ada pada jiwa yang bersyukur. Saya setuju yang terakhir ini. Sekecil apapun kenikmatan, bisa kita nilai kebahagiaan bila kita bersyukur. Sebaliknya, sebesar apapun kenikmatan, jika tak ada rasa syukur, maka kenikmatan tersebut akan terus terasa kurang dan mengakibatkan tidak bahagia. Begitulah TEORI-nya.

Sedangkan menderita atau penderitaan, sama saja. Tidak bisa diukur secara obyektif. Orang dengan mudah mengatakan, “aku menderita”. Tapi seberapa menderitakan kita dibanding orang yang paling menderita. Misal kita mengeluhkan terus-terusan tentang tugas kuliah atau apapun tentang perkuliahan, pikirkanlah orang yang tak bisa kuliah dan ingin sekali kuliah. Bukankah ia sangat beruntung dari pada kita yang hanya bisa mengeluh untuk kuliah. Ia bisa belajar, dan kita mengeluh.

Pikirkanlah, bahwa bukan kita yang paling menderita, ada orang lain yang lebih menderita daripada kita. Kita pasti akan melihat betapa kita masih diberi kenikmatan untuk bersyukur dan merasakan kebahagiaan.

0 komentar:

Posting Komentar