Welcome Myspace Comments

Dengan ini kuciptakan sebuah persembahan... Semoga kalian suka... Cintai Budaya Membaca

Sabtu, 15 Mei 2010

Adisty


Aku terdiam tertunduk melihatnya mengalihkan pandangannya dariku. Suasana hening, tak ada suara diantara kami berdua.
“Kak Eza, sudahlah aku tak memerlukan kepastianmu, aku tak butuh penjelasan darimu. Hari ini aku hanya mengungkapkan, bahwa aku mencintaimu.” Mulutku mulai terbuka setelah lama menunggu kata yang tak kunjung keluar dari mulut kakak kelasku itu. Pengungkapan cintaku padanya sama sekali tak menyentuh perasaannya.
“Tik” , air mataku jatuh. Berat rasanya merasakan keperihan ini. Tapi inilah yang terjadi. Setelah ku tunggu, tak ada balasan kata-kata darinya, aku makin perih. Kulangkahkan kakiku perlahan meninggalkannya. Kehampaanku sangat terasa saat aku berpaling darinya.
Kupercepat langkahku, sudah tak kuat kutahan tangis ini. Percuma saja ku menangis. Sekalipun ia tak memikirkan kehadiranku.
***
“Bukk”. Beberapa buah buku jatuh menabrakku. Tangisan perihku terhenti melihat Kak Vendie, sahabat Kak Eza. Tanpa memikirkan bukunya yang terjatuh ia menanyakan keadaanku. “Dis, kamu tidak pa pa? kenapa mata kamu terlihat sembab? kamu menangis? ada apa Adisty?” Bertubi-tubi pertanyaan Kak Vendie menyerangku. Aku sama sekali tak ada hasrat untuk menjawabnya.
Aku meneruskan langkah kakiku. Tak kupedulikan apa yang Kak Vendie rasakan saat mendapat perlakuan cuekku. Aku sendiri masih tenggelam dalam kesedihan.
***
“Adisty, ayolah cerita ke aku, mengapa kamu menangis?” Tanya Kak Vedie, ia rela menemuiku sepulang sekolah, untuk menghentikan segala perasaan penasarannya itu. Sebenarnya aku tak ingin menceritakan hal pribadiku tersebut padanya, pada orang yang sangat dekat dengan Kak Eza. Namun, memang hanya dia yag selama ini mampu mengurangi pedihku.
Aku mulai mengangkat kepercayanku, kuceritakan semua padanya.
“Lalu apa Kak yang seharusnya aku lakukan? Kak Eza sama sekali tak menanggapi kata-kataku, apa Kak Vendie ada penyelesaian?” tanyaku begitu aku selesai menceritakannya. Wajah Kak Vendie perlahan memerah, ku bisa baca perasaannya yang mulai emosi.
“Adisty, semampuku, aku akan coba bantu kamu, kamu gak usah khawatir, semua akan secepatnya selesai”. Jawab Kak Vendie yakin.
***
Pukul 9 pagi. Pelajaran PKn yang dibawakan Pak guruku membuatku ngantuk tak tertahan. Kuamil langkah untuk izin membasuh muka ke kamar mandi.
“Wushh”. Basuhan air membuka mataku. Kesegaran mulai terasa. Sayup-sayup kudengar dua orang laki-laki berbicara di toilet sebelah. Makin lama aku semakin bisa menangkap suara mereka berdua.
“Astaga!” itu adalah suara Kak Eza dan Kak Vendie.
Telinga kupasang lebar untuk mendengar percakapan mereka yang cukup keras.
“Za, setelah kamu tahu Adisty menyukaimu, kenapa kau sama sekali tak menanggapinya? Kau benar-benar tak menyukainya atau ingin membuat luka dalam hatinya?” Tanya Kak Vendie sedikit teriak, terdengar jelas di telingaku. Sepertinya aku tak sabar mendengar jawaban Kak Eza. Kira-kira apa ya?
Suara Kak Eza yang sehari-harinya lembut, kini berubah meninggi, mengimbangi pertanyaan Kak Vendie. “Ya Ven aku hanya ingin menyakiti Adisty.” Jawabnya singkat.
Seketika hatiku menangis, tak ada lagi yang kuat kutahan. Ingin rasanya aku berlari mengadu rasa ini. Entah pada siapa??? Tetapi kakiku tetap tak beranjak untuk tetap mendengar pembicaraan mereka.
“Tapi mengapa kau lakukan itu Za?” Tanya Vendie pelan. Aku mulai menghentikan tangisanku untuk focus mendengar jawaban Kak Eza selanjutnya.
“Lebih baik aku menyakiti Adisty, daripada aku harus menyakitimu Ven. Aku tahu dan sangat sadar bahwa kau sendiri sangat menyukai Adisty.” Jawab Kak Eza keras.
“Za, dengarlah, meski cinta Adisty menjadi milikmu, aku akan tetap menjadi sahabatmu. Aku akan lebih bahagia, melihat kalian bahagia. Eza, aku ingin engkau tak lagi membohongi perasaanmu untuk menyakiti Adisty!” Jawab Kak Vendie bernada rendah.
Aku yang terdiam, mulai menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang akan kufikirkan pada hal ini. Aku tak akan memilih salah satu dari mereka. Dan aku takkan meneruskan perasaan ini. Karena hal ini hanya merenggangkn semuanya. Semua antara aku, Kak Eza, dan Kak Vendie.

0 komentar:

Posting Komentar