Aku berjalan menuju sudut sekolah, kantin. Tempat dimana aku dan Angga, sahabatku, bias menghabiskan waktu bersama. Kulihat beberapa meter dari langkahku, ada Angga menikmati semangkuk bakso langganan kami. “Hei Ver, sini ayo cepat, ntar biar bias makan bareng”, sapa Angga, melihat aku memasuki kantin. Aku langsung menyerobot antrian bakso. Tak kupedulikan beberapa mata aneh melihat tingkahku. Yaaah…syukurlah, semangkuk bakso siap kulahap.
“Ngga, gimana proyek kamu? Sukses?’ tanyaku, begitu aku duduk menghadapnya. Proyek Angga yang kumaksud adalah proyek tentang kisah cintanya dengan Adel, salah satu siswi seangkatan dengan kami, yang kukenalkan pada Angga.
“Masih jauh Ver, aku sulit banget nemui dia, sibuk mlulu anaknya”. Jawab Angga yang ternyata mengerti apa yang kumaksud dengan proyek tadi. “Berjuang terus donk Sob, kan ada aku, aku siap jadi mak comblang kalian”. “Ver, ver, kamu ini ada-ada saja”. Bakso di hadapan kami tak terasa telah lenyap termakan laparnya perut. Akupun segera beranjak meninggalkan meja. “Lho Ver, mau kemana? Nggak duduk-duduk di sini dulu? Jam istirahatnya masih lama kog?” “Sorry Ngga, aku musti ke perpus dulu, mau nyari bahan buat tugasku”. Aku pun berlari meninggalkan Angga. Entah mengapa hari ini aku lumayan Bad Mood. Otakku benar-benar penuh dengan pikiran-pikiran aneh.
Pintu perpus tak sadar telah kulewati. “Lho, kog udah lewat?” Mau balik. Ah males. Lagian emang tadi gak benar-benar mau ke perpus kog. Akhirnya kuteruskan langkahku, dan terhenti di suatu ruang kelas (bukan kelasku). Aku melihat seorang Adel sedang duduk di bangkunya mencorat-coret sebuah kertas pink di depannya. “Hai Del, lagi ngapain?” Ternyata tanyaku yang super tiba-tiba mengagetkannya. Dengan cepat-cepat ia menyembunyikan kertas yang baru ia tuliskan sesuatu itu. “Eh Vera, nggak kog. Aku nggak lagi ngapa-ngapain, tadi Cuma iseng. Vera ngapain ke sini? Ada perlu kah?” Jawabnya lumayan gugup. Aku mengerti maksudnya, bahwa aku tak boleh melihat kertas warna pink-nya itu.
“Oh aku Cuma pengen mampir aja tadi. Sudah lama ya kita gak ketemu? Angga gimana?” Adel menatapku, ia kaget aku menanyainya tentang Angga. “Gimana apanya Ver? Angga baik-baik saja bukan?” “Maksudku, Angga anaknya gimana?” “Oh gitu. Iya Ver dia baik kog, aku senang bias berteman dengannya”. Jawaban yang begitu singkat nbuatku. Tapi aku sedikit memberinya kesempatan bernafas. Karena aku melihat, keringat mulai membasahi keningnya yang tertutup poni itu. Aku terus terdiam. Ia pun kembali berucap, “Ver, kapan-kapan aku bias nitip sesuatu gak sama kamu? Aku pengen kasihkan ke Angga?” tanyanya padaku. Terlihat wajah Adel yang sangat serius. “Sip dah Del, aku mau. Cieee… nitip apaan niy buat Mas Angganya?” Godaku. “Ah … bukan apa-apa Ver? Jawabnya tersipu malu.
Jam sudah merapat, memasuki jam berikutnya. Aku segera berpamitan pada Adel dan beranjak keluar kelas. Begitu aku sampai di pintu kelas, aku mendengar suara nyanyian dari Angga sedang lewat. “Aduh … si Angga”. Akhirnya aku ngumpet di balik pintu. Adel memandangiku keheranan, sebenarnya apa yang kulakukan? Setelah kurasa aman, cepat-cepat aku keluar kelas. Tapi, sial “Bukk” badanku terbentur buku yang dibawa oleh seorang guru. “Hei Ver, hati-hati kalau jalan !” seru bu guruku. “Eh iya bu, maaf-maaf”. Jawabku tergesa-gesa sambil merapikan buku-buku tersebut.
Nah, sampailah aku di kelas. Duh, ada Pak guru. “Vera ! kamu dari mana saja? masuk telat. Kamu tahu ini pelajaran saya?” Buset dah, killer banget niy guru. Untung tadi udah makan semangkok bakso, kalau gak, mungkin sekarang pingsan. (trus apa hubungannya? Hehehe). “Iya pak maaf, aku gak akan mengulangi lagi pak. Janji.” Jawabku diiringi dengan berpasang-pasang mata teman sekelas, seakan tak ingin merasakan kejadian seperti ini. “Ya sudah ccepat duduk”.
“Sssst.. Ver, kamu dari mana sih, aku tadi nyusul kamu ke perpus tapi kamuny agak ada”. Hembusan nafasku yang ngos-ngosan, membuatku susah berkata. “Aku dari perpus Ngga, kamunya aja gak bias nyari aku”, jawabku. Teman sebangkuku itu benar-benar mengkhawatirkanku. “Hai kalian ! jangan ngobrol sendiri !” gertak Pak guru. Huuh… sebel banget niy hari.
***
Morning. Jadwal hari ini apa ya? Matematika! Oh no! ada tugas! Belum ngerjain! Jam sudah mepet. Aduuuh…. Hari ini lebih parah dari hari kemarin. Langsung kusamber kunci motorku. Kulajukan sekencang-kencangnya sesuai keberanianku. “Wussshh…..,” dinginnya angin pagi trus mengenai permukaan kulitku. Hhh…untunglah sampai sekolah belum terlambat. Aku langsung duduk dan segera mengerjakan PR-PR ku.
“Ver, sedang apa?” Tanya Adel di samping tempat dudukku. Aku tak menyadari hadirnya gadis itu, tiba-tiba ia di sampingku, atau sengaja ia menungguku. Aku yang pontang-panting ngerjain tugas, tak sedikitpun memperhatikannya. Tapi sepetinya Adel tak memperdulikan kesibukanku. “Ver, aku ganggu ya? Aku cuma pengen nitip ini buat Angga. Terima kasih”. Katanya, kemudian ia berlari meninggalkan kelasku. Begitu ia menggeletakkan kertas berwarna pink, di samping buku tugaskku.
Aku masih sibuk dalam tugasku. Lembaran pink itu masih tergeletak di tempat ia sebelumnya. Hhhh…selesai juga akhirnya tugasku, pas banget ama kehadiran sang guru killer-ku. “Hayooo …baru selesain tugas ya?” Tanya Angga mengagetkanku, rupanya ia baru datang. “Ssst…Ngga jangan kenceng-kenceng, ntar ketahuan”. “Halla, kamu ini kebiasaan Ver”.
Pulang sekolah tiba. Aku masih tenggelam dalam catatan-catatan yang musti aku salin dari buku Angga, karena aku lumayan ketinggalan catatan. Hehehe. “Ver, aku pulang dulu ya, sorry aku gak bisa nemenin. Aku harus cepat pulang. See you”. Angga pun berlalu meninggalkanku. Duh masih banya yang belum kucatat, aku juga udah lama di sini. Pulang ah.. ntar dikerjakan lagi di rumah. Aku segera merapikan buku-buku pelajaranku, rasanya ingin cepat sampai di rumah and tidurrrr… (lho kog? )
Tapi, aku melihat kertas berwarna pink tersisip di bawah bukuku. “Ah..aku lupa ngasihkan buat Angga”. Kumasukkan kertas itu ke dalam tasku. Aku berniat memberikannya besok, saat bertemu kembali dengan Angga.
***
Wah..,kayanya si Angga dapat tanggapan bagus niy dari Adel. Tapii..kenapa rasanya aku benci banget dengan kenyataan ini? Memang tanpa disadari seorang Anggad. Aku diam-diam menyukainya. Benar-benar menyukainya lebih dari seorang sahabat. Tapi rasa itu ku simpan rapat-rapat.
Malam ini aku terus terjaga. Penasaran dengan isi tulisan dalam kertas pink itu. “Baca gak ya? Baca, gak, baca, gak. Kalau baca, gak enak ganggu privasi orang. Kalau gak baca, bisa penasaran setengah mati aku”. Omelku sendiri. Akhirnya aku memberanikan membuka kertas pink itu. Di bagian luar, tak tertulis sama sekali, dari siapa dan untuk siapa kertas itu dikirim. Apaan ya? Dan …
Deg. Aku mulai membaca setiap kalimatnya. Aku benar-benar tak paham dengan yang sebenarnya terjadi.
My best friend
Terima kasih, inilah ungkapan yang sangat kutunggu darimu Ver. Sudah lama kita bersahabat, tapi sebelum itu, aku sudah sangat menyukaimu.
Aku merelakan engkau mengenalkanku dengan Adel, karena aku memang ingin melupakan perasaanku padamu.
Namun selama ini hanya kupendam, aku takut merusadk persahabatan kita.
Kini, aku sudah mengerti perasaanmu. Lupakan persahabatan kita, biarlah kini cinta bersemi diantara kita.
Friendsip telah berubah jadi love.
Aku juga mencintaimu Ver.
Salam Cinta,
Angga
Jadi, selama ini Angga suka sama aku? Yes…yes…yes…!!! (bahagia nieh). Tapi kenapa pengirimnya jadi Angga? Bukankah ini surat buat dia? Aku jadi semakin bingung !!! Besok, aku harus segera menanyakan hal ini pada Angga. Ini seudah larut malam, dan aku tak mungkin menelponnya.
Ada rasa bahagia dalam hatiku. Akhirnya teka-teki kehadiran cinta diantara kami terpecahkan. Namun juga ada rasa khawatir, akankah cinta ini lebih kekal dari persahabatan kami sebelumnya?
***
“Ngga, kantin yuk. Aku belum sarapan nieh?” ajakku pagi-pagi. “Tapi bentar lagi masuk Ver”. “Ah sudahlah bolos sekali-kali”. Aku terus menariknya agar mau mengikutiku. Dengan senyuman manis di wajanya ia menerima ajakanku.
“Pak, dua mangkuk bakso ya”, Angga memesan bakso, begitu kami sampai di kantin. Aku duduk menghadap Angga, aku tak sabar ingin segera meng-klarifikasi masalah surat pink tersebut.
“Ngga, maksug suratmu ini apa?” Aku mnyodorkan surat yang sudah mulai lecek itu, karena semalam aku terus tutup buka-tutup buka untuk membacanya seolah tak percaya. “Lho ini kan surat yang kubuat untuk kamu, atas balasan suratmu sebelumnya. Aku menulisnya ketika istirahat, di perpus, memanggnya ada yang salah Ver?” Aku melotot terkejut. Haa !!! balasan suratku sebelumnya? Perasaan aku gak pernah nulis deh. “Ngga, boleh kulihat suratku sebelumya?” Angga segera mengeluarkan secarik kertas pink dari dalam tasnya. “Ni Ver !”
Untuk cintaku,Angga.
Angga, semenjak kita berkenalan, aku sangat menginginkanmu. Tapi kenapa tak pernah kau sadai itu? Semoga cintaku tersambut olehmu. Aku mencintaimu Angga.
Pengagummu
Hah…apa-apaan ini? Pasti ini surat Adel buat Angga. Aku masih melototi kertas pink tersebut. “Ver, aku menemukan kertas itu di samping buku tugasmu. Lalu aku mengambilnya tanpa sepengetahuanmu. Sungguh Ver, aku sangat bahagia mendengarnya”. Angga menatapku. Aku sendiri benar-benar bingung, kau harus jujur atau aku akan bohong? Sepertinya, kali ini kejujuranku lebih dominan.
“Angga, kamu tahu? Aku juga sangat mencintaimu. Namun sungguh, bukan aku yang mengirim kertas ini. Adel menitipkan ini padaku untuk diberikan padamu, tapi ternyata kau telah mengambilnya, dan kau fikir itu surat dariku”.
“Hah Adel? Benarkah, berarti aku salah? Tapi tunggu-tunggu, kau juga mencintaiku. Berarti aku mengirim suratku pada orang yang tepat pula”.
“Tapi bagaimana dengan Adel Ngga?” tanyaku super bingung. “Tenang Ver, aku akan beri penjelasan padanya baik-baik, dia pasti mengerti kog”.
“Mudah-mudahan”.
Hari ini, hari yang sangat membahagiakan buat kami. Karena semua ya ng sebelumnya bersifat sahabat kini jadi sifat cinta.
0 komentar:
Posting Komentar