Tiba-tiba saja air mata Nayla tumpah. Gadis tujuh belas tahun itu tak sanggup lagi menahan haru yang menjalari fikirnya. Hari itu ia terpilih menjadi bintang sekolah karena prestasi-prestasinya. Puluhan ucapan selamat telah ia terima. Prestasi akademisnya sangat dibanggakan oleh teman-teman, juga guru-gurunya.
“Nay, selamat ya ! pertahankan prestasimu.” Ucap salah seorang guru.
“Nay, semoga tetap jadi yang terbaik.” Ucap guru lainnya.
Sebenarnya hal itu bukanlah hal yang pertama dialami Nayla, tapi hari itu benar-benar hari yang istimewa baginya. Karena sosok yang sangat ia banggakan, menyaksikan secara langsung, apa yang membuatnya bahagia, dan Nayla menyebutnya Ayah.
Sosok laki-laki bertubuh kecil dan berkulit kehitaman itu hanya duduk dan memperhatikan Nayla dari kejauhan. Matanya berkaca-kaca. Ia tak membiarkan butiran air matanya jatuh, walau hanya setetes. Namun di dadanya ia rasakan sesuatu yang sangat hebat. Ia ingin berteriak dan berlari menggendong putrinya itu. Sama dengan yang ia lakukan dua belas tahun silam. Ketika ia melihat putrinya berhasil menaiki sebuah sepeda. Namun kini, ia harus menahan rasa bahagianya dengan hanya memandangi kagum dari kejauhan.
Nayla sangat mengerti dan mulai menyadari, bahwa dari ayahnyalah ia bisa seperti sekarang ini. Betapa ia sangat mengingat, ketika ia belajar di masa-masa TK danSD-nya. Setiap hari ia harus menangis karena ia merasa tak pernah mau belajar, tapi ayahnya selalu mendampinginya dan terus membimbingnya belajar. Nayla yang bandel merasa kalah oleh ayahnya dan hanya bisa menuruti ayahnya untuk belajar dan tentunya sambil menangis.
Menginjak usia delapan tahun, Nayla menpunyai tugas double dari ayah tercintanya. Sebelum belajar pelajaran sekolah, ia harus bisa melancarkan bacaan-bacaan Al-Qur’an. Hal-hal seperti itu adalah hal paling menyebalkan di hari-hari Nayla. Namun, itu menjadi hal yang sangat dirindukannya kini.
Sang ayah mengerti, bahwa putrinya adalah seseorang yang tegar dan cerdas dalam memahami setiap pelajaran yang peroleh dari teladan-teladan ayahnya.
Ya. Itulah setidaknya yang selalu dilakukan oleh ayah Nayla yang tergolong orang pendiam. Ia hanya mengucap satu atau dua kalimat untuk membimbing dan mengingatkan putrinya. Selanjutnya, ia memberi kesempatan kepada Nayla untuk menerjemahkan sendiri apa yang dimaksud sang ayah. Tentunya hal ini dilakukan ketika Nayla memasuki usia tiga belas tahun. Nayla bangga memiliki ayah seperti ayahnya. Ia juga sangat bahagia punya ibu seperti ibunya. Keduanya memberi peran luar biasa dalam kehidupannya.
Nayla berjalan mendekati ayahnya. “Sayang ya Yah, hari ini ibu gak bisa datang. Betapa bahagianya ibu jika ia bisa datang dan mendampingi ayah .” Ucap Nay pada ayahnya. Harapan ibunya akan datang sangat besar.
“Iya Nak, ibu hari ini kan bekerja, ibu tidak bisa izin.” Jawab ayah Nay menatap putrinya.
Nayla tidak bisa menyalahkan ibunya. Justru ia sangat bangga pada wanita itu. Darinyalah ia mengerti arti kerja keras dan paham apa arti pengorbanan.
0 komentar:
Posting Komentar