Welcome Myspace Comments

Dengan ini kuciptakan sebuah persembahan... Semoga kalian suka... Cintai Budaya Membaca

Sabtu, 15 Mei 2010

Cinta Kak Fajar !


Aku melihat sekelilingku, berharap akan ada perubahan dalam hidupku. Ya. Angan-anganku akan kehadiran sosok yang kurindukan, sosok yang mengisi hari-hariku Selama ini, akan datang menghampiriku. Kak Fajar, begitulah caraku memanggilnya, seorang mahasiswa semester 3 dari salah satu kampus di kotaku.
Memang tak mudah bagiku menggapai asaku untuk memilikinya, bahkan sempat berfikir, aku takkan sanggup bersanding dengannya. Sampai saat ini pun aku masih berani berharap padanya, jelas-jelas ia sudah memiliki orang lain. Entah, aku juga tidak percaya dengan apa yang kurasakan. Cintaku ini memang buta. Aku masih saja bangga akan pribadi dan kehidupannya, dan semuanya yang kutahu darinya. Aku tidak peduli bila harus mencampuradukkan antara perasaan bangga dan cinta, aku hanya ingin mencintai seseorang yang aku cinta, sekalipun ia tak tahu aku telah berharap penuh atasnya. Malam ini, aku benar-benar kehilangan selera untuk tidur. Sudah 5 bulan ini, aku tak mendengar kabar, curahan hati dan candanya.
Memendam perasaan seperti ini memang begitu menyiksaku, tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku terus terdiam, termenung, terpikirkan olehnya. Kekagumanku terhadapnya membuatku ‘fanatik’ pada semua hati yang menawarkan untukku. Aku menganggap Kak Fajar adalah yang terbaik untukku, seseorang yang mampu memberikan kesempurnaan hidupku.
Malamku kini telah berganti pagi. Mentari memncarkan sinar hangatnya melalui celah jendelaku. Tiada yang berubah dari hari kemarin. Semuanya tetap sama. Aku masih memikirkan Kak Fajar, jiwaku resah tak tentu. Bahkan niat konyolku keluar, mengungkapkan perasaanku padanya melalui E-mail. “Ah…aku tak peduli, aku menahan malu, dan aku harus melakukan ini jika mau tahu perasaan Kak Fajar padaku agar aku tidak tersiksa dengan perasaanku sendiri”, gerutuku.
Dihari-hari berikutnya, niat menulis E-mail pada Kak Fajar semakin kuat. Sudah tak ada cara lagi untuk menahan perasaan anehku ini. Kata demi kata coba kurangkai, kalimat demi kalimat coba kutulis untuk menggambarkan hatiku padanya.
“Assalamu’alaiku Wr. Wb.
Hari ini aku merendahkan ketinggian hatiku …
Kuhidupkan keberanianku …
Menyatakan kejujuran atas hati ini ….
Tiada salah jika Ia menciptakan Kak Fajar bukan untukku …
Namun jangan salahkan aku jika cinta bersemi dalam hatiku …
Biarlah rasa ini tetap ada …
Jangan paksa aku untuk mengusirnya …
Maafkan aku telah berani mencintai Kak Fajar …
Aku tahu ada dia di hati Kak Fajar …
Aku ngerti tak ada ruang untukku ….
Aku hanya ingin Kak Fajar tahu,
Bahwa ada aku di sini yang menyayangi Kakak.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.”
Ku klik send pada layar komputer. “semoga saja Kak Fajar mau membaca E-mail-ku ini”, gumamku dalam hati.
Kini ada rasa puas di hatiku, meskipun aku tak tahu apa balasan E-mail-ku? atau bahkan tak ada balasan? Oh My God.
Aku lebih sering membuka E-mail-ku, sudah dua hari yang lalu aku mengirimnya, masa sampai saat ini belum ada balasan darinya? “Aduh … kenapa tetap no message, masa Kak Fajar sengaja nggak membalasnya? Pikiran negatif mulai merasukiku, keraguanku mulai datang. Tapi aku tetap meyakinkan diri, bahwa Kak Fajar bisa memberikan solusi terbaik tanpa harus lari dari masalah.
Aku menjadi seorang yang pendiam dari seelumnya. Segala ‘virus tak selera’ mulai menjalariku. Teman-teman sekolahku mulai menyadari ketidakbiasaanku ini. Shela, salah satu temanku mendekatiku, dia menghiburku dengan sapanya. “Fina, kamu akhir-akhir ini ada apa sich ? lagi ada masalah ya? cerita ke aku aja, nggak apa-apa kog, aku bisa jaga rahasia kamu. Yaa…kalau mau cerita sich.
Dengan segala kepercayaanku, semua dari awal kuceritakan padanya. Tidak ada yang kurang, dan tidak ada yang lebih. Semua telah didengar oleh temanku itu. Tapi dengan gayanya yang super aneh, ia menanggapi ceritaku. “Fin, Fina, kamu ini ada-ada saja, masa seorang Kak Fjar mau sama kamu? aku kurang yakin dia mau menerimamu. Ingat donk, kamu dan Kak Fajar tu bedanya jauh pooollll… Dia udah masuk kuliah, jadi teman-teman cewek super cantik yang menyukainya, sudah pasti ‘antri’. Ditambah lagi dia pinter, aktif, and pinter dalam berbagai hal. Aku akui kamu juga punya akan hal itu, tapi bagiku, ahhh…tetap jauh. Kalau aku jadi kamu, lebih baik mundur saja lah, daripada malu-maluin diri sendiri kaya gini. Gak mungkin dia suka sama kamu? Hhhh…itu hanya ‘ocehanku’, semua kembali pada hatimu Fin.”
Aku tertunduk terdiam mendengar kata-kata Shela barusan, benar-benar masuk dalam pikiranku. Aku mulai pesimis. “Apa aku harus membunuh perasaanku ini ya?” gumamku dalam hati.
E-mail mulai jarang kubuka, aku tak peduli dengan hal itu. Mungkin memang benar, aku dan Kak Fajar terlalu jauh perbedaannya. Hari-hariku berikutnya kujslani seperti air yang mengalir, mencoba menghilangkan bayangan Kak Fajar dari hatiku. Aku baru membuka inbox , setelah hari ke-20. “Syukurlah, ada inbox masuk, mudah-mudahan dari Kak Fajar”. And ternyata benar … ada pesan dari Kak Fajar.
“Assalamu’alaiku Wr. Wb..
Maaf Fin, balasannya telat.
Hari-hari ini Kakak sibuk, tak sempat memuka E-mail-ku.
Maaf juga karena jarang sms,
Aku kaget memaca pernyataan Fina kemarin, sangat mengagetkan bagiku.
Namun, aku sangat menyukai kejujuranmu itu
Kamu tahu? tak semua orang bisa melakukan hal seperti kamu.
“Aku tahu ada dia di hati Kak Fajar …
Aku ngerti tak ada ruang untukku …”
Peryataan itu tak benar Fin.
Dia itu dia siapa? aku tak mempunyai orang special di hatiku. Kamu salah sangka.
Awalku bertemu denganmu, ada yang luar biasa darimu.
Aku menyukai sifatmu yang apa adanya.
Aku juga sangat menyayangimu lebih dari adikku.
Memang banyak pula dari kaummu yang berusaha merebut hatiku, namun entah mengapa hanya ada dirimu di hatiku.
Demikian balasan dariku, semoga engkau percaya padaku. Tidak ada yang tak mungkin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Perlahan air mataku meleleh, ada rasa haru dan bahagia menyelimutiku. Memang benar “Tidak ada yang tak mungkin”. Aku selalu pesimis dan ragu akan perasaanku sendiri, hanya karena ‘ocehan’ temanku. Seharusnya aku tidak memikirkan kata-katanya, toh dia sudah memberiku ‘kebebasan’ untuk percaya atau tidak.
Hhhh… Kak Fajar, akhirnya aku tidak hanya memimpikanmu hadirmu lagi. Engkau benar-benar ada dalam kehidupanku. Andai saja dari dulu aku menyampaikan perasaan ini, mungkin tak akan ada yang namanya ‘penyakit memendam perasaan’.

0 komentar:

Posting Komentar