Celah jendela kamarku terbuka. Perlahan angin sore menghanyutkanku dalam lamunan. “Hhh…betapa indahnya alam ini”. Udara segar dedaunan masuk dalam hidungku, kulihat pula garis-garis orange mega di langit. Suara-suara serangga malam mulai terdengar khas di telingaku. Semua rasa sedih dan masalah yang menimpaku perlahan kulupakan. Mata sembab ku kini merayap-rayap. Menatapi satu persatu keindahan alam di depanku.
Namun, tiba-tiba mataku terfokus pada sebuah pohon besar dan lumayan tua. Di bawahnya, duduk seorang perempuan, ia tertunduk lesu. Tangannya terus menari-nari di atas buku, sepertinya ia sedang melukiskan gambaran hatinya. Rasa penasaran mulai datang. Sebenarnya siapa gadis di bawah pohon itu ? Apa yang ia lakukan sore-sore begini? Kakiku yang sedari tadi terdiam, kini mulai beranjak, aku akan menghampiri gadis itu.
Perlahan bayangannya semakin jelas, dan aku tahu ….
“Astaga ! Dinda”, teriakku. Tapi sedikitpun tak ada respon darinya. Akupun segera berlari menujunya. Gadis manis itu masih tertunduk, teriakan kencangku sama sekali tak mengusiknya. Aku duduk di bangku di samping tempat ia duduk.
“Dinda, apa yang kamu lakukan di sini, tanyaku pelan. Ia tetap diam. Tetangga sekaligus sahabat dekatku itu masih sibuk dengan pena di tangannya. Percuma aku menanyainya terus, ia takkan menjawab. Kuberanikan untuk melirik buku yang sedang ia tuliskan sesuatu.
“Aku takkan bisa menemukanmu kembali”.
Tulisan Dinda sedikit menjawab pertanyaaku. Meski rasa penasaran masih memenuhi otakku.
“Dinda, ceritakan padaku, sebenarnya apa yang menjadi masalahmu, mungkin aku bisa sedikit membantumu”. Gadis manis itu menghentikan tangannya, wajahnya menoleh ke arahku. Kulihat, matanya berkaca-kaca.
“Viz, aku ingin dia kembali”. Kata Dinda tersendat, ia memecahkan tangisnya. “Maksud kamu dia siapa Din?”
“Aku ingin Ega kembali untukku Viz, tapi sayang, semua takkan dapat kuraih !” Akhirnya ia meneteskan air matanya. “Kalian putus?” teriakku penasaran. “Hhh … aku tidak putus Viz”, suaranya memelan. “Lalu?”
“Ega, Ega telah meninggal Viz, ia kecelakaan”. Tangisnya semakin dalam. “Hah, Ega? Telah meninggal? Kenapa bisa secepat ini”, heranku memuncak. “Sabar ya Din, memang semua tak ada yang kekal”.
“Iya Viz makasih. Tapi kenapa aku masih belum bisa merelakan kepergiannya? Aku teringat, kemarin ia masih bercanda denganku, kini … kini … ia harus pergi meninggalkanku?” sejenak suasana hening.
“Tapi engkau takkan sendiri Din, aku akan bantu kamu buat melupakan dia”, hiburku. Sahabatku itu mulai menghapus air mata di pipinya.
“Enggak Viz, kau tak perlu membantuku, aku takkan berusaha melupakan dia. Biar saja namanya bermusium di hatiku”.
“Tapi janji, kau takkan sedih terus”.
“Ia sahabat, aku akan berusaha”. Jawabnya yakin, ia beranjak dari tempat duduknya.
Aku hanya memandanginya berjalan meninggalkanku. Aku mulai mengaguminya, kagum karena ia begitu tegar menghadapi masalahnya.
Aku sedikit malu ketika menasehatinya tadi. Karena, pasti ia melihat mataku yang sembab, kebanyakan menangis. Aku harus sadar, bahwa masalah yang kuhadapi masih secuil dari masalah Dinda.
Lamunan membawaku pada datangnya malam. Langit menggelap, angin pun berhembus semakin dingin. Aku mulai beranjak meninggalknan kesendirianku. “Aku janji Din, aku akan jadi seorang setegar dirimu”. Kataku dalam hati.
0 komentar:
Posting Komentar