Welcome Myspace Comments

Dengan ini kuciptakan sebuah persembahan... Semoga kalian suka... Cintai Budaya Membaca

Senin, 21 Mei 2012

Kamu Berbeda, Kamu Membuatnya Lebih Istimewa

Mengenalmu. Kukira tiada berbeda. Tapi ternyata berbeda. Kamu berbeda, yang kemudian membuatku berbeda pula. Kamu membuatnya lebih istimewa. Aku ingat, ketika pertama kali kamu mengatakan “aku sudah tahu siapa Aning, namanya tak pernah asing di telingaku, aku kagum sama dia, tapi aku belum berani berkenalan dengannya” Ya. Kedengaran lucu memang, tapi itulah kamu. Kamu berbeda. Kamu datang tepat ketika aku terpuruk. Kamu datang ketika semua terasa berat kujalani. Kamu berbeda, kamu membuatnya lebih ringan tuk dijalani. Kemudian, kamu datang untuk membantuku mencabut luka. Kemudian, kamu datang untuk membantuku menerbangkan mimpiku. Kamu berbeda, kamu membuatnya lebih indah tuk dilalui. Aku menilai seseorang, bukan karena dia baik padaku saja. Tapi, ketika kebaikan itu juga disebarkan ke semua orang disekitarnya. Tak ada perbedaan. Itulah Kamu, kamu membuatnya lebih istimewa. Nella, terima kasih telah menjadi mozaik dalam kehidupanku.

Selasa, 15 Mei 2012

Nikmat Syukur

Kebahagiaan dan rasa syukur tiba-tiba menyelimuti hati kita, ketika kita sadar bahwa masih banyak orang yang tak seberuntung kita. Banyak hal yang kemudian tak bisa kita maki serta hujat, selain rasa malu dalam diri. Beberapa dari kita barangkali ada yang kurang beruntung. Baik itu secara materi maupun nonmateri. Tapi demikianlah Allah menunjukkan keadilanNya. Barangkali juga dari ketidakberuntungan tersebut, di satu sisi mereka jauh lebih berguna daripada kita. Kegiatan bakti sosial, tidak hanya sebatas keformalan dari realisasi makna “membagi”. Lebih dari itu, perasaan syukur atas nikmat yang diberikan olehNya, jauh lebih berharga untuk kemudian dimiliki oleh masing-masing dari kita. Ketika kita mulai melihat pakaian, tempat kediaman, hingga tubuh mereka, realitas yang membuat kita membelalakkan mata. Untuk memahami, “itulah mereka yang tidak lebih beruntung dari kita”. Atau semacam bisikan yang mengatakan, “kamu lebih beruntung dari mereka, bersyukurlah”. Dan itu semua hanya terangkum dalam deguban jantung kita yang makin menyepat, yang kadang terlihat pada air mata haru kita. Semoga, kita tetap mensyukuri apa yang seharusnya kita syukuri, demikianlan kebahagiaan akan muncul. Jika kemudian kebahagiaan itu muncul, suatu kebahagiaan pula jika kita mau untuk membaginya kepada yang lain. Sedikit apapun memberi, pastilah sangat istimewa bagi yang membutuhkan.

Sabtu, 10 Maret 2012

BF2B !!! Unity For All


Kurang lebih sejak lagu pertamanya, aku sudah sangat tertarik pada Bondan & Fade 2 Black (BF2B). Diawali dengan lagu Bunga, grup musik ini melejit dengan lagu-lagu berbagai aliran. Pop, jazz, hip-hop, keroncong dipadu hip-hop. Tidak hanya kreatif, hal ini membuktikan bahwa BF2B sangat menghargai perbedaan melalui musik yang mereka bawakan.

Dan yang lebih membanggakan lagi, teman-teman rezpector (julukan untuk para fans BF2B) mengatakan, karya BF2B hanya bernafas optimis, semangat, kesatuan dan perjuangan. Lewat hip-hop fade 2 black (eza, santoz, dan tito) dipadu dengan suara dari Bondan Prakoso, yeah, make it so perfect V

Lagu BF2B benar-benar obat, tentunya setelah Al-Quran. Haha
Menginspirasi banyak orang, tidak terkecuali seperti saat ini, saat aku menulis tentang mereka. Aku perhatikan, lagu-lagu cinta dari BF2B tidak pernah lagu dengan nafas patah hati. Misalnya Bunga dengan perjuangan, Cahaya Cinta Sejati dengan kebutuhan akan cinta, kau puisi dengan suasana jatuh cinta, not with me dengan semangat cinta, U’ll be sorry dengan semangat bangkit dari keterpurukan karena patah hati. Hahaha like it so much V

Kalau cerita tentang BF2B, akan masih ada banyak lagi yang perlu diceritakan. Banyak hal yang menjadi visi misi, karya (buku dan lagu), sejarah rezpector, arti rezpector, arti V (2 jari), dan sebagainya. Hal tersebut sudah sangat banyak dijumpai di google, silakan browsing. haha

Tapi, kalau mau browsing lagu-lagu BF2B, sulit, apalagi yang video klip dari you tube, dijamin gak dapat kalian. Ini adalah cara kita (rezpector) menghargai karyanya, tidak membajak. Salam rezpect V.

Selasa, 27 Desember 2011

Kalung Mutiara Violet





Handmade kalung mutiara ungu

Sebuah untai tunggal berwarna ungu mutiara violet beras dengan banyak kilau.

Ini mutiara indah sedikit lebih besar dari rata-rata. Warna violet, yang cukup mendalam yang sangat terang untuk ungu-merah.

Kalung adalah 17 1 / 2 inci panjang.

Mutiara melambangkan kepolosan dan hati yang murni. Mereka merangsang feminitas, penerimaan diri dan integritas, dan membantu mengembangkan kebijaksanaan.

Sabtu, 26 November 2011

Laki-laki dan Wanita



Laki-laki : Mengapa ada banyak hal yang terasa aneh dengan makhluk bernama wanita? Mengapa ia bisa dan mudah menangis? Sementara laki-laki susah untuk melakukannya? Mengapa ia bisa membuat laki-laki tersenyum sebahagia itu? Mengapa ia bisa pula membuat terluka yang amat sangat? Apa yang membedakannya dengan kaum laki-laki?

Wanita : Seringkali heran dengan makhluk yang namanya laki-laki, mengapa ia mudah sekali masuk ke otak wanita, baik karena cinta, atau karena benci? Mengapa ia nampak misterius dan aneh? Ia juga kadang terasa begitu dekat, tetapi kadang juga terasa begitu jauh? Apa yang membedakannya dengan wanita?

Satu-satunya hal yang membuat bahagia dan sedih bagi laki-laki adalah wanita.
"Setelah meninggalkan dunia, aku tidak meninggalkan fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada masalah wanita." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan sebaliknya, satu-satunya hal yang membuat bahagia dan sedih bagi wanita adalah laki-laki.

Wanita, adalah makhluk aneh bagi laki-laki.
Laki-laki, adalah makhluk aneh bagi wanita.

Laki-laki kadang berfikir, apa mau wanita sebenarnya? Mengapa ia aneh sekali? Begitu pula wanita saat memikirkan laki-laki, apa yang dimau laki-laki sebenarnya? Mengapa ada makhluk aneh seperti itu.
Keduanya terasa aneh satu sama lain. Tetapi apapun bentuk keanehan tersebut tak bisa dan tak mungkin untuk dikomunikasikan. Karena memang begitulah adanya, begitulah kodratnya. Wanita memandang laki-laki seperti itu, sangat kontra dengan spesiesnya, begitu pula sebaliknya.
Demikianlah baru dinamakan lengkap. Dalam kelengkapan pasti ada perbedaan, bukan keseragaman. Benar begitu ?

Bahagia dan Menderita



Entah apa yang dipikirkan orang-orang tentang kebahagiaan dan penderitaan. Mungkin aku juga bagiannya. Kita bisa menilai bahagia bila kita terlepas dari kata menderita. Sebaliknya, kita menderita bila tidak menjangkau apa itu bahagia.
Yang menjadi pokok pembahasan di sini adalah, kebahagiaan dan penderitaan itu tidak bisa dipandang secara obyektif. Ada yang kebahagiaannya diwakili oleh harta, kedudukan, jabatan, dsb. Ada yang diwakili oleh kehadiran keluarga saja. Kadarnya pun tak bisa diukur dengan grafik-grafik statistika. Ini semua terkait dengan kepuasan seseorang tentang apa yang diinginkannya.

Di dalam buku pula pernah dituliskan, bahwa bahagia itu ada pada jiwa yang bersyukur. Saya setuju yang terakhir ini. Sekecil apapun kenikmatan, bisa kita nilai kebahagiaan bila kita bersyukur. Sebaliknya, sebesar apapun kenikmatan, jika tak ada rasa syukur, maka kenikmatan tersebut akan terus terasa kurang dan mengakibatkan tidak bahagia. Begitulah TEORI-nya.

Sedangkan menderita atau penderitaan, sama saja. Tidak bisa diukur secara obyektif. Orang dengan mudah mengatakan, “aku menderita”. Tapi seberapa menderitakan kita dibanding orang yang paling menderita. Misal kita mengeluhkan terus-terusan tentang tugas kuliah atau apapun tentang perkuliahan, pikirkanlah orang yang tak bisa kuliah dan ingin sekali kuliah. Bukankah ia sangat beruntung dari pada kita yang hanya bisa mengeluh untuk kuliah. Ia bisa belajar, dan kita mengeluh.

Pikirkanlah, bahwa bukan kita yang paling menderita, ada orang lain yang lebih menderita daripada kita. Kita pasti akan melihat betapa kita masih diberi kenikmatan untuk bersyukur dan merasakan kebahagiaan.

Buta


Mari berkaca, apa kita lihat noda di wajah kita ?
Sedikit atau bahkan setitik saja.
Tidak?
Kemudian, mari kita coba lihat wajah orang lain
Apakah kau melihat noda?
Sedikit atau bahkan setitik saja.
Banyak? Iyakah?
Barangkali kamu salah
Coba lihatlah sekali lagi
Lihat, siapa dirimu?
Siapa kita?
Siapa kita yang mudahnya melihat noda di wajah orang lain?
Siapa kita, yang sederhanya mengatakan “buruk sekali rupamu!”
Coba lihatlah dirimu sendiri,
Lihatlah berkali-kali, lihat dengan seksama !
Tetap tidak nampak?
Ya Tuhan ! Kamu ternyata buta
Buta hati

Sering sekali kita mengatakan orang lain sesuai dengan kacamata kita sendiri. Padahal kacamata kita itu hitam, gelap, tak bisa melihat apapun keluar. Apalagi untuk melihat diri kita sendiri.
Seburuk apapun orang lain, nilai itu tak akan pernah keluar bila kita yang memandangnya. SEHARUSNYA seperti itu. Yang berhak memandangnya demikian hanyalah ALLAH. Ia melihat ketaqwaan seseorang, Ia melihat iman seseorang dan bukan jabatan, derajat, dan apalah itu. Tetapi kita? Apa hak kita menilai? Apa daya kita? Toh kita juga manusia. Tak punya kuasa, tak punya daya, tak punya pula standar kesempurnaan.
Jika standar ALLAH kepada manusia adalah ketaqwaan, saya pribadi ragu, bila hanya ketaqwaan yang distandarkan manusia sebagai kesempurnaan. Itu KEWAJARAN. Ketaqwaan itu sendiri tidak bisa dinilai oleh kita, hanya ALLAH yang bisa. Sudahlah, kita jangan berusaha menilai negatif orang lain, sekeras apapun usaha kita, hal itu mustahil untuk valid.

Ketulusan


Ketulusan seringkali diidentikkan dengan memberi, mengasihi, atau bahasa kerennya menyayangi. Oyeah, itukan cuma bahasanya. Memberi, mengasihi, atau menyayangi, berarti melakukan sesuatu. Melakukan sesuatu yang tulus. Yang tulus, atau dianggap tulus? Ah terserahlah apa itu namanya.

Tulus, katanya adalah ikhlas. Katanya. Ku rasa tidak. Aku benci dengan teoritis seperti itu. Aku butuh realitas. Jika tulus itu tak bisa direalitaskan, itu sebuah kewajaran. Wajar, dan tak sedikitpun aku akan memaksa untuk melakukannya. Setidaknya itu lebih baik, daripada muncul jurus teori bayangan. Tulisan ini ditujukan kepada semua orang, kepadamu, kepadanya, kepada mereka, dan terutama pula kepadaku. Bahwa ketulusan secara tulus itu jangan diucapkan, melainkan dilakukan. Karena orang yang tulus tidak pernah mengatakan “Aku tulus”. Orang yang benar-benar tulus tidak akan pernah mengatakan “Aku ikhlas”. Jika kita ingin tulus, lakukanlah, atau jika kita ingin ikhlas, lakukanlah, just do it. Tidak gampang? Memang, tapi itu lebih baik, daripada mengeluarkan jurus teori bayangan.

Setiap orang, tak dipungkiri tentu saja ingin dibilang baik, ingin dinilai mulia. Lalu apakah kita yakin kalau jurus teori bayangan itu keluar, kita benar-benar bisa dinilai mulia? Saya pribadi tidak setuju dengan hal tersebut. Karena melakukan lebih baik daripada teori (dalam hal ini maksudnya). Maka dari itu just do it-lah.

Saya bukan orang yang anti dengan kenegatifan, apalagi sang aktivis kepositifan. Tidak. Secara tidak sadar, barangkali saya juga pernah mengatakan atau megalamai teori bayangan tersebut, maka dari itu, kita belajar bersama, menyadari, dan introspeksi diri. Benar tidak? Jika realitas dan kenyataan diri memang demikian? Hahaha...semoga ini bukan subyektif dari diriku sendiri.
Ketulusan sempurna, takkan pernah ada. Kecuali dariNya. Untuk belajar menjadi tulus, JUST DO IT.

Sabtu, 14 Mei 2011

Aku Tahu Engkau Peduli


Ya Rabb, pegangi aku di tengah ketidakberdayaan ini.
Aku ingin menjadi sabar layaknya orang yang Kau cintai karena kesabarannya.
Ketika perjalanan hidup adalah pilihan, maka bantu aku untuk memilihnya.
Aku tidak dapat berjalan tanpaMu, aku pincang.
Segala kemunafikan dunia mengkhawatirkan bagiku.
Jadikan kesedihan sebagai peringatan, jadikan musibah sebagai hikmah.
Biarkan hidayah kebahagiaan mengalir pelan, menutup sedikit lubang karena sakit.
Aku tau Engkau peduli, tidak pernah hilang dari cinta yang suci.

Sabtu, 30 April 2011

Yang Biasa Menjadi Luar Biasa


Angin dari mana? Hujan dari mana? Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba berhasrat buat baca buku. Apalagi buku pinjaman? Huhuy mau dong (Miss. Ngirit). Berawal dari tawaran seorang teman, tiga ekor buku pun berada di tanganku. Siap melahab? Siap dahh… (sok semangat banget)
Pilihan pertama pun jatuh pada judul La Tahzan For Broken Hearted Muslimah. Penulis Asma Nadia dkk. Asma Nadia? Siapa dia? Penulis dadakan? Memangnya ia sehebat apa, sehingaa namanya bisa nongol paling depan? dan mungkinkah cover buku ini adalah dirinya?
Demikianlah pertama kali aku berfikir tentang Asma Nadia. Dia bukan penulis, dia belum banyak berkarya, dan sama sekali tak kuketahui tentangnya. Ya, dengan sangat tinggi hati aku membuka bukunya. “Mungkin juga gitu-gitu aja, menggurui,” pikirku sambil mengingat-ingat isi buku karya orang lain yang seringkali bahasanya menggurui.
Kubuka subjudul pertama. ????? lho? Mana Asma Nadia? Kubuka-buka dan kubuka hingga subjudul terakhir (hanya membuka ). Ok mulai membaca. Aku suka. Ceritanya begitu mengalir. Suka doank? Belum cukup membuatku percaya pada Asma Nadia.
Tulisan Asma Nadia belum kutemui, belu puas rasanya. Perasaan tinggi hatiku masih saja merajai. Tapi jelas, tingkat penasaranku di atas singgasana raja tinggi hatiku. Walaach…lebay. Tak sia-sia rasa penasaran itu menguasaiku. Tak sia-sia pula aku mencoba menaklukkan rasa tinggi hatiku. Di sana kutemukan kepuasan. Kepuasan akan isi dalam buku tersebut. Isinya hidup, pembaca tak hanya diajak membayangkan dan merasakan perasaan penulis, tetapi juga terhipnotis. Cieileee…

***

Aku baru mengenal Asma Nadia. Baru mengenal dan aku mulai mempercayainya, bahwa ia telah mengalahkan ketinggian hatiku dengan karyanya, meskipun belum seratus persen percaya. Karena aku baru saja membaca satu karyanya. Aku harus memecahkan kembali ketinggian hatiku yang tentunya tidak memuncak. Itu artinya, aku semakin berusaha mengenal Asma Nadia. Keinginanku untuk mengetahui tentangnya, secara tidak sadar telah memposisikan diriku sebagai salah satu fans-nya. Hohoho… Aku baru nyadar hal ini di kemudian hari.
Mulai dari cari-cari info tentang Asma Nadia, dari Facebook maupun blog, kemudian tentang Forum Lingkar Pena (FLP), sampai berusaha mencari alamat FLP di kotaku yang hasilnya nihil
Semakin ku mencari, semakin pula aku mengenalnya. Bahwa Asma Nadia bukan penulis dadakan, bukan penulis yang hanya produktif menulis, tapi juga karyanya yang semakin berkualitas. Terbukti dengan novelnya yang telah difilmkan dengan judul Emak Ingin Naik Haji. Hal ini semakin mempercayakanku padanya, dan itu artinya, runtuhlah tinggi hatiku. Hohoho…
Yang tak boleh ketinggalan pula adalah inspirasi-inspirasinya. Hal yang paling menginspirasku dari karya-karya Asma Nadia adalah yang biasa menjadi luar biasa. Apaan tuh???
Pertama, bahasa yang digunakan.
Asma Nadia seorang yang apa adanya, begitu pula bahasa yang digunakan dalam karya-karyanya. Sederhana, lugas, tidak hiperbola, tidak sok puitis, dan tidak terlalu memakai bunga-bunga kata. Menggunakan bahasa sehari-hari, sehingga begitu hidup dan dekat sekali dengan pembaca.
Kedua, ide ceritanya.
Yakni cerita-cerita yang diusung, keren. Ketika hal-hal seperti biasa yang kita temui akan tetap seperti biasa. Tetapi lewat Asma Nadia, akan menjadi luar biasa. Karena hal itu seakan tak dibuat-buat. Kembali pembaca dilibatkan di sana. Untuk kesekian kalinya, aku kaget ketika ide cerita Asma Nadia, sering kutemui di kejadian nyata sebelumnya, tetapi justru hal itu yang membutku sangat tertarik. Tidak jauh-jauh dengan kehidupan kita sehari-hari.
Ketiga, amanah yang disampaikan
Para pembaca buku diajak, bukan menggurui.
Ini terlihat dalam karya-karyanya. Dalam konteksnya, Asma Nadia bukan mengatakan harus begini, harus begitu. Tetapi mengatakan lihatlah, seperti ini, maka seperti ini. Ia membebaskan pembaca untuk meyakini atau tidak meyakininya. Tapi justru hal ini yang manjur untuk zaman gaul seperti sekarang ini. Asma Nadia membaca fenomena yang terjadi, bahwa tidak zamannya lagi untuk menggurui.
Zaman sekarang kog menggurui? Walach dicuekin dahhh pastinya.

“Mengapa harus kata jatuh yang berada di depan kata cinta”
“Mengapa harus kata mati yang berada di belakang kata cinta”
(Asma Nadia)

Sebuah kalimat yang biasa, nampak luar biasa bukan?

Pokoknya, Asma Nadia aku banget !!!
Segala sesuatunya menginspirasiku. Aku jadi percaya diri untuk menulis. Tentunya dimulai dari hal yang biasa-biasa.


Disertakan dalam lomba penulis Asma Nadia Inspirasiku

Senin, 21 Februari 2011

Keep Smile :)


Saat semua dunia terpana melihatmu
Maka, mau tak mau
Kau harus tersenyum melihat mereka
Dan...
Menyumbang sebagian kebahagiaan di dunia
Dan... tetaplah tersenyum
Karena...
Dunia menatapmu...
Keep smile :)

Warnamu

Aku bisa melihatmu
Meski tak harus kau pancarkan warnamu...
Aku telah merasa terwarnai olehmu...
Tapi,
Aku tak boleh
Melihat warna-warnamu
Yang telah mengisi
Sebagian besar hari-hariku




Dicatat di :
Ponorogo, Jumat, 18/02/2011
Pkl. 20.10 WIB
^_^ By Lacya

This is not an option

I wanted to intertwine many days with you
There are many stories that I want to be with you carve
But ...
We're in the wrong place
We are in the red lights stop
Let ...
I decided to stop everything about you
This is not an option
Everywhere is the best
But ...
It is my obligation to defend it
I wanted to with him faithful
Sorry ...

I'm afraid
I love you
I'm afraid
You were too far my desire
I'm afraid it all
But ...
All is not wrong
You just enjoy the taste
Which is pure and appeared suddenly in the recesses of your heart
And ...
All will be one
If you're trying to have my

Indeed ...
Never enough
If you only love
I have no
But ...
Once again
This is not an option
This requirement

Believe ...
Although for the moment
Impartial your world
Wait or Pick
Your new world
Rest assured,
God has the best plan for you
I want you to always smile, my brother:)

Selasa, 08 Februari 2011

Senyuman Untuk Hujan



Suara gemericik air itu membangunkanku dari lamunan. Pandanganku yang mematung kini terbelalak melihat di hadapanku. “Ah, hujan, dia datang,” teriakku menyambutnya. Aku loncat kegirangan dengan sedikit menyentuhkan ujung-ujung jariku dengan tetesan-tetesan suci sang hujan.

“Hai, kau apa-apaan? Hujan datang saja kegirangan. Biasa saja, tak perlu lebay.” Gerutu kakak tingkatku, Kak Arya. Aku baru menyadari ia berada di sana se-jam lalu bersamaku. Kami terlalu menikmati keterdiaman, sehingga kebersamaan itu tak terasa. Ia masih cemberut. Tak beda dengan se-jam lalu, bahkan sekarang lebih cemberut. Kami jengkel, empat jam harus terpaksa menunggu seseorang untuk menjemput kami berdua menuju rumahnya. Teman Kak Arya, Abu.
“Sini Kak Arya, indah.” Kataku
“Indah apanya? Masih harus tiga jam lagi kita harus menunggu Abu, lalu apa yang bisa kita lakukan bila hujan turun?” cerocosnya kesal. Berulang kali, bangku yang didudukinya ia pukul keras. Tentu itu menyakitkan. Tapi itu tak lagi terasa bila ia sedang jengkel.

Aku beranjak dari tempat dudukku, berdiri dan perlahan mendekati hujan dengan penuh senyum.Aku tak memperdulikan Kak Arya lagi. Terlalu tidak penting untuk terus mengikuti arah emosinya.

“Hei Is, mau kemana?” tanyanya kaget melihat tingkahku yang sangat berbeda dengan beberapa menit lalu saat hujan belum mengguyur.
“Sebentar Kak, Isna pengen main hujan.” Jawabku singkat dan segera meluncur berhujan ria setelah sebelumnya melepas sepatu. Kak Arya memandangiku keheranan.

“Kak Arya, sini Kak.” Teriakku melawan suara hujan. Namun, ia menggeleng tanpa sedikitpun senyuman.
“Byurrr” Hujan pun semakin deras, dan aku semakin menikmati guyurannya. Dan kulihat bocah laki-laki, anak jalanan menghampiriku. Ia juga terlihat bahagia menikmati hujan. “Kak, main yuk,” ajaknya, tanpa ada momen perkenalan. Uluran tangan mungilnya kuraih. Aku tak memperdulikan kehadirannya adalah siapa selain karena kami sama-sama menikmati hujan.
Kami berdua pun bermain-main dengan air hujan. Saling memercikkan, berteriak, bahkan kami berlari-lari memutar tanpa tujuan. Tangan kami selalu terbuka untuk merasakan air itu benar-benar membasahi tubuh. Suara-suara tawa terus menghias.

***

Sesekali, kuperhatikan Kak Arya di kejauhan. Ia nampak memperhatikan keakraban kami terhadap hujan. Wajah cemberutnya kini berubah, tapi masih juga tanpa senyum. Hanya matanya melotot keheranan melihat kami. Tangannya ia dekapkan erat, menjaga kehangatan tubuhnya. Hujan membuatnya merasa kedinginan, dan bahkan ia selalu menghindar dari beberapa tetes air hujan yang terbawa angin ke arahnya.
Aku dan bocah ini masih tertawa-tawa. Tak ada lalu lalang pejalan kaki di sana. Mungkin mereka enggan menghampiri hujan walaupun untuk sekedar menyapa hadirnya. Kuperhatikan lagi Kak Arya. Ia sudah tak lagi mendekap tangannya. Perlahan, ia sentuhkan ujung telunjuknya pada percikan air di bangku yang di dudukinya. Disentuhnya sekali lagi, lagi, dan lagi. Tapi ia masih belum puas untuk percaya pada kelembutan hujan. Sekali lagi ia menyentuh, dan kali ini ia berhasil mempercayai hujan dengan sentuhan keinginannya untuk mendekati hujan.

“Huuuu!!!” Teriaknya meluncur mendekatiku dan bocah di dekatku ini. Ia melawan rasa dingin dengan sunggingan senyum di bibirnya. Aku dan bocah ini melongo kaget melihat Kak Arya. Ia memang menikmati hujan atau berpura-pura saja? Hatiku bertanya-tanya, dank u yakin bocah ini punya pertanyaan yang sama denganku.

“Hei, kenapa melongo? Ayo, kita main lagi.” Seru Kak Arya memercikkan air ke wajahku dan wajah bocah jalanan ini. Kami yang terkejut mengalah menemukan jawaban atas pertanyaan kami untuk kemudian menuruti keinginan Kak Arya bermain air hujan.

“Hahaha.” Kami bertiga tertawa bersama dalam suasana sangat ceria. Mencoba mengalahkan suara hujan yang semakin deras mengganggu pendengaran kami. Kami bergerak bebas, indah, dan semangat. Tak ada beban pikiran dan perasaan jengkel lagi.
Perlahan, Kak Arya mendekatiku dan berkata pelan,
“Thanks Is, you have show me the rain!” ditambah dengan senyum manisnya.
“Hmm, maksudnya?” aku sama sekali tak mengerti maksud perkataannya.
“Ya. Kamu bisa menunjukkan padaku, bahwa hujan pun juga indah.” Jelasnya lagi semakin ceria dalam senyumnya.
“Ok. That’s true, now please smile for rain, it has made you happy and cheerfull.” Jawabku menatapnya. Kami berdua saling tertawa bahagia dan puas, namun bocah jalanan di sampingku ini makin melongo dengan bahasa yang kami gunakan.

“Ok Boy, let’s enjoy the rain,” ajak Kak Arya menggandeng si bocah, dan menuntunnya menikmati guyuran hujan.
Aku bergumam pelan.
“Hujan, Kau membuatku, Kak Arya, dan bocah jalanan itu bahagia. Lain kali buat orang lain bahagia, dan terakhir, buatlah semuanya bahagia karena hadirmu.”

***


Hari ini akan menjadi esok
Dan sekarang akan menjadi nanti
Semua akan berlalu
Satu inginku…
Ingatlah aku dan hari ini
Aku tak ingin,
Hujan membuat masa ini berlalu kemudian hilang
Tapi…
Ingatlah hujan untuk mengingatku
Dan kau akan menemukanku
Seperti hari ini

By : Isna



Akan selalu kuingat
Butiran air hujan yang menggenangi tubuhku
Hujan akan menemani hari-hariku
Karena hujan itu adalah kamu

By : Arya

Game Anak


Dunia internet tak hanya mewabah ke dunia remaja atau dewasa. Kalangan anak-anak pun pnyumbang dari bagian itu. Tujuan mereka macam-macam. Namun, mayoritas adalah sebagai mainan baru yang seru, praktis, murah, dan tentunya hanya bagi mereka yang berduit.

Seperti halnya warnet di daerah Kediri. Per kota computer dipenuhi oleh anak-anak bermain game online. Dari menit ke menit hingga berjam-jam silih berganti pengguna antusias datang dan pergi hanya untuk ber-game online.
Tetapi tidak untuk bocah laki-laki bersepeda itu. Aku tak tahu siapa namanya. Berkali-kali aku melihatnya melintasi warnet disertai dengan kayuhannya yang semakin kuat. Ah jangan piker sepedanya itu bagus seperti sepeda anak pada umumnya. Dia memakai sepeda tua, butu, milik orang dewasa. (Bukan untuk penghinaan, tetapi sebagai kepentingan ilustrasi)

Umurnya baru sekitar sebelas tahunan. Kulitnya pekat dan yang kulihat selalu dihiasi keringat. Ia juga selalu membawa sesuatu di boncengan sepedanya. Ya. Selalu. Mungkin itu adalah rutinitasnya.
Tatapannya mantap ke depan, sambil diperkuat kayuhannya. Tetapi tidak ketika ia melewati sebuah warnet. Ia mengalihkan tatapan lurusnya untuk sejenak memandang ke arah anak-anak yang antusias ber-game online di warnet. Namun, bukan berarti ia melemahkan kayuhan sepedanya. Ia tetap mengayuh dengan sedikit senyuman di wajahnya.

Ada kesenjangan di sana. Tak semua orang bisa menikmati dunia internet. Contohnya bocah laki-laki tadi, bermain game online terpaksa harus tergadaikan oleh aktivitas beratnya. Ini realita yang ada. Game tradisional semakin tak dijumpai. Hilangnya semangat kebersamaan dalam kesederhanaan.

Jumat, 28 Januari 2011

Hujan, Aku Mengingatnya


Kumenunduk, terlihat olehku setiap titik hujan yang perlahan merembes ke tanah. Membasahi bumi berdebu yang rindu akan guyuran sang air. Tercium aroma khas tanah basah, segar, tak terhingga

Kutengadahkan kepala. Merasakan butiran-butiran air hujan dari langit.
“Ah !” Teriakku, “Sakit !” Air-air yang jatuh ke wajahku, benar-benar ku rasakan seperti jarum menusuk wajahku. “Aduh !”
Kutundukkan kembali kepalaku. Kini, air-air hujan itu mengenai bagian atas kepalaku. Setidaknya ini tidak lebih sakit dari pada mengenai wajahku.
Hujan. Ada apa dengan hujan ?

Menurutku itu bukanlah hal yang penting untuk dibahas. Hal yang sepele bin basi. “Aku ingat dia,” dia yang sangat mencintai hujan. Entah, aku tak habis pikir, apa yang membuatnya mencintai air-air langit yang bagiku hanya terasa sakit. Benar-benar aneh, aku tak pernah berpikir sekonyol itu.
It’s ok-lah jika seseorang menyukai pelangi, mungkin karena keelokan warnanya. Atau seseorang yang menyukai senja, karena suasana dan keindahan, Itupun hanya sebatas menyukai. Tapi dia cinta hujan…???

Apa karena hujan telah menumbuhkan semua tumbuhan ?
Ataukah, karena hujan memberi kesegaran luar biasa ?
Itupun kukira hanyalah alasan basi yang bukan merupakan sebuah jawaban.
Sekali lagi, dia cinta hujan. Hhh…terserahlah, itu haknya. Tapi rasa penasaran mencekam otakku untuk berpikir, ada apa dengan hujan ?
“Hujan mengingatkanku dengan orang yang ku sayang. Apa yang dia lakukan, apa yang dia rasakan.” Itulah jawaban yang terlontar darinya, saat aku bertanya tentang keanehannya mencintai hujan.

Perlahan, butiran air turun. Kali ini bukan berasal dari langit, tapi kelopak mataku. Aku mengingatnya. Mengingat seorang yang cinta dengan hujan.
Hujan, aku mengingatnya. Apakah ini berarti aku telah menjadi seorang pecinta hujan seperti dia ? Aku bisa merasakan bahwa hujan telah mengantarkan ingatan-ingatanku kepada orang yang ku sayang ?
Aku tak mau. Aku bukan pecinta hujan, dan aku tak kan pernah mencintai hujan untuk mengingat dia. Aku bukan pecinta hujan. Tapi hujan bukanlah sesuatu yang bisa kubenci. Hujan bukanlah sesuatu yang bisa kuusir. Dia datang dimanapun dan kapanpun. Aku tak bisa menyalahkan kehadirannya. Itu berarti, aku juga akan tetap teringat tentangnya ?

Air mataku mengalir bersama derasnya hujan. Karena tak seharusnya aku mencintai hujan, agar aku melupakan semuanya.
Kutengadahkan kembali kepalaku. Menahan rasa sakit di wajahku. “Tik…tik…” Hujan masih menyentuh keras wajahku. Rasanya memang sakit, tapi hebat, tak ada lagi air mata yang keluar dari mataku. “Aduh,” teriakku.
“Hahaha…!”
“Aku cinta hujan !”


Terbit by Kampus-Kita edisi Desember 2010

Kamis, 06 Januari 2011

Ketika Dunia Menuntut Perubahan


Tuntutan, berarti sesuatu yang dipakssa, keharusan, kepastian, dan lain sebagainya. Ketika sebuah tuntutan tak dapat dipenuhi, maka akan terjadi hambatan ataupun pihak yang merugi. Misalnya terjadi pada seorang pengamen, tanpa uang dari hasil mengamen, ia tak bisa makan atau minum. Sementara, kebutuhan untuk makan dan minum adalah keharusan yang wajib dipenuhi.

Tuntutan hidup kadang memang sangat kejam bagi sebagian orang. Tanpa pemenuhan-pemenuhan tuntutan tersbut, bisa saja ia mati alias tak bisa bertahan hidup. Ini merupakan realitass kehidupan yang sudah tak mungkin dipisahkan.

“Terjadinya kemiskinan, karena ada kebodohan.” Demikian teori yang selama ini cukup mendominasi pemikiran banyak orang. Kemudian muncullah pertanyaan, “Lalu, bagaiman bisa pintar ? Sementara untuk bisa pintar, membutuhkan uang ?”
“Uang tak semua orang punya, maka otomastis akan masuk ke ‘dunia orang bodoh’.” Silih berganti pertanyaan tetap saja berpijak pada teori tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab oleh orang-orang dengan kemauan yang besar terhadap masa depan cemerlang. “Tak aka bodoh, meski tanpa uang.” Apa bisa ??? Imposible Nothing, tak ada yang tak mungkin.

Teori tersebut sekaligus menjawab tuntutan-tuntutan dunia. Dunia hadir dengan segala kemewahan dan kemahalannya, yang tak bisa didapat dengan Cuma-Cuma. Maka, kita harus menju menghadapinya, karena itu adalah sebuah tuntutan.

Kita harus sanggup menjawab semua persoalan dunia. Ketika sang dunia ‘menjual dirinya’ dengan sangat mahal, kita pun musti bisa untuk membelinya. Apalagi selain dengan ilmu? Ya. Perubahan hanya akan kita capai melalui ilmu, dan ilmu akan ada karena kemauan kuat. Maka, ketika dunia menuntut perubahan, jawabannya adalah kemauan kuat dalam menuntut ilmu.


Kawan, ingatlah, dunia menuntutmu !
Maka berubahlah untuk duniamu.
Berubahlah demi kehidupan yang lebih baik.
Suatu keniscayaan jika kau akan memiliki dunia yang istimewa.

Salam semangat ! ^_^

Selasa, 04 Januari 2011

Ada Sejuta Alasan Untuk Tetap Tersenyum


Adakah manusia normal yang tak pernah mempunyai masalah ? Jawabannya pasti tidak ada. Berarti, adanya masalah adalah cirri-ciri dari seorang yang normal. Maka, tak perlu takut terhadap ‘masalah’. Namun, bagaimanapun juga, masing-masing orang berbeda pikiran, berbeda pula untuk mengatasi masalah yang dihadapi.

Ada yang bertahan di dalam dadanya sendiri, ada yang dicurhatkan ke orang lain. Ada yang beralih ke minum-minuman keras atau bahkam ke dunia kriminalitas. Semuanya memiliki alasan kuat dalam menggunakan cara-cara tersebut.

Pelampiasan dan mencari senyuman (baca : cari kebahagiaan) sangatlah berbeda. Yang satunya bersifat negatif dan yang satunya bersifat positif. Tapi keduanya memiliki persamaan, yaitu sama-sama mencari kenyamanan hati. Kenyamanan hati dengan melupakan ataupun dengan mengatasi masalah itu sendiri. Kesedihan berlarut akan menjadi buah dari ketidaknyamanan hati. Jangankan mengatasai masalah, untuk melupakan saja tidak bisa.

Jika kita tak menemui senyuman, maka cari. Cari senyuman itu. Mungkin di antara sahabat kita, atau dikeceriaan adik-adik kita, juga mungkin terselip di antara kebersamaan keluarga. Bandingkan masalah yang kita hadapi dengan masalah orang yang lebih parah dari kita.

Ketika kita berhadapan dengan uang yang menipis, bersyukurlah, setidaknya kita lebih baik dari orang yang berjuang mati-matian hanya untuk makan.
Ketika kita bermasalah dengan kedua orang tua, pikirkanlah dengan orang yang sudah tak mempunyai orang tua.
Ketika kita bermasalah karena diputuskan pacar, maka lihatlah orang yang sudah cukup umur tetapi belum bisa menikah karena belum berjodoh.
Ketika kita hamper putus asa karena kaki atau tangan kita yang harus diamputasi, maka lihatlah orang yang telah mendapat vonis kematiannya.



“Hadapi dengan senyuman, semua yang terjadi biar terjadi. Hadapi dengan tenang jiwa, semua akan baik-baik saja.” Demikian Once melantunkan syairnya.
Masih begitu banyak alasan untuk kita tetap tersenyum. Maka tersenyumlah kawan !!!


Salam semangat ! ^_^

Jumat, 03 September 2010

Cerita Bersama Sahabatku


”Wah kereeen...cantik banget El?” sambut En, sahabat baruku di sebuah SMK Islam. Dia sangat kaget melihatku berjilbab. MOS kemarin, ia tak mendapatiku memakai jilbab, karena aku bukanlah siswi yang berasal dari SMP khusus Islam seperti dia.
Ia tersenyum berdiri di depan pintu kelas pertama kami. Aku pun membalasnya dengan senyuman terindahku, meski kutahu senyumannya lebih indah dariku. Dia juga sangat cantik dengan jilbab barunya, meski aku tak pertama kali melihatnya berjilbab. Inilah pelajaran pertama darinya. Ia tak ragu untuk memuji seseorang, meski hal itu belum tentu indah atau baik di mata orang lain. En, seorang gadis imut dan cerewet. Ia tahu bagaimana bisa menyenangkan orang lain. Itulah mengapa aku sangat terhibur dengannya.
”Wuih...tulisanmu bagus El, lihat nih tulisanku? Amburadul ! hehehe.” Ia kemudian menunjukkan tulisannya yang kurasa memang tidak rapi. ”Bagus En !” Jawabku bohong, sedikit membuatnya senang.
Kami duduk sebangku, paling depan dan tepat sekali di depan meja guru. Bukan aku yang memilihnya, tentu saja itu pilihan En. Seminggu yang lalu, ketika pertama kali MOS, En duduk dengan seorang teman lain bernama Yani. Namun ternyata Yani memilih teman lain untuk sebangku dengannya. Sang kakak OSIS pun memilihku untuk duduk mendampingi En. Senyum ramah En menyambutku. Perasaan yang awalnya membuatku ragu, kini sangat menyukainya.
”Sini El, kamu duduk sebelah kiriku yah,” katanya. ”Iya En, makasih.” Jawabku tersenyum lebar.
***
”El, aku ngantuk !” Bukunya disodorkan ke arahku, ia menulisnya di halaman paling belakang. Ia mengajakku ’SMS’an dengan bukunya. Meski awalnya terlihat aneh, tapi kami akhirnya membudayakan hal ini setiap hari, apalagi jika benar-benar malas mengikuti pelajaran.
”Eh, ini sedang pelajaran, usil banget sich surat-suratan begini?” Aku menyodorkan kembali pada En, setelah aku selesai menulis balasannya.
”Aku boring banget El, gurunya datar-datar aja, gak menarik”. Tulisnya lagi. Salah satu tangannya menyangga kepala yang sepertinya sudah tak kuat untuk tegak.
”Dasarrr !” balasku.
Perlahan, dia pun berjalan ke bangku kosong paling belakang (dan pura-pura membawa buku), yang dilakukannya adalah tidurrrr...... Oh...no...
Aku ikut mengahampirinya, sepertinya aku juga mulai tak menyukai cara guruku itu, bikin nguap terus (daripada aku menguap di hadapannya ?)
Dengan berjalan pelan, aku mendekati En di bangku belakang.
”Sssstt... bangun En, bangun,” bisikku. Tanganku menggoyang-goyangkan bahunya. Tapi ia tetap cuek, ”Ufh...aku ngantuk El, jawabnya lemas. Entah pikiran darimana? Aku pun mengikutinya, menyandarkan kepalaku semeja dengan En. Sejam berjalan, tapi tak ada reaksi dari guruku untuk memarahi atau membagunkan kami. (Guruku kelewat baik... ).
”Tet...tet...” Bunyi tanda ganti pelajaran. Aku dan En terbangun, kami saling pandang dan kemudian tersenyum. Mata kami sama-sama merah.
”El, ayo ke toilet.” Ajak En mengulurkan tangannya. Aku pun meraih tangannya, kami berjalan pelan keluar kelas sebelum guru berikutnya datang. Bukan toilet yang dituju, tapi toilet guru.
”Waahh, nih anak ya?” pikirku dalam hati.
***
”El, sahabat kebanggaanmu sedang menangis tuh di tangga.” Kata Yani mengagetkanku. Kenapa ia tiba-tiba berdiri di dekat aku duduk, ia bersama kedua teman (teman sekelasku juga), dengan gaya anak gank (atau gang buntu kali ya?) seolah sedang menghakimiku. Aku memalingkan fikiranku ke En, membayangkan ia sedang menangis di tangga sekolah.
Yani kembali menambahkan, sebelum aku bertanya, dua temannya hanya diam (macam bodyguard gitu). ”Salah sendiri sok pintar, sok hebat. Emang kalau dia pinter, gak mau berteman dengan kita yang bodoh? Kamu juga, jangan ikut-ikutan dia. Sok gak mau berteman dengan kita karena lebih pintar.” Bentaknya keras, tangannya juga tak diam menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku kaget bukan kepalang mendengarnya. Aku pun segera berdiri dari tempat dudukku, menjawab kata-kata Yani, tentunya tidak sekeras yang Yani lakukan. Aku masih terlalu takut menghadapi mereka bertiga.
”Kalian salah paham, tak ada yang sok pinter di sini, kami juga tak ingin membeda-bedakan teman.” Namun Yani masih tetap mengomel, kedua temannya juga ikutan nyumbang omelan yang gak penting. Aku semakin risih saat mereka semakin menjelek-jelekkan En. Suaranya tak kalah menggelegar dengan suara Yani. Aku segera berlalu dan berlari menuju tangga sekolah. Percuma aku melawan, mulut mereka ada tiga. Huhuhu.
Kosong. Tak ada En di sana. Aku mencarinya di toilet guru, dan benar saja dia sedang sesenggukan menahan tangis di sana. ”En, jangan dengarjan mereka”. Hiburku, begitu aku menutup kembali pintu toilet.
”Sebenarnya apa salahku?” tangisan masih mengikutinya.
”Kamu tidak salah, semua salah paham,” aku kembali meyakinkan bahwa semua ini memang murni salah paham. Mengapa aku begitu meyakininya ?” Ya. Memang ucapan En yang terkadang super ceplas-ceplos, membuatnya tak bisa mengontrol kata-kata yang keluar darinya. Kata-kata ’pedas’ sering saja meluncur saat dirinya dalam keadaan bad mood. Tak peduli siapapun orang di hadapannya. Tentu saja hal ini disalah artikan oleh teman-teman yang agak sensitive (baca: sok kuasa) dan beginilahh akhirnya.
Ternyata tak semudah itu menghibur gadis cengeng ini (sama cengengnya denganku). Bukan membuatnya bisa tertawa dan terhibur, aku malah ikutan menangis, (tuh kan sama-sama cengeng). En baru akan berhenti menangis, saat ia telah mengeluarkan kemarahannya dengan curhat-curhat hebohnya. Heboh? Ya. Ia sambil teriak-teriak. But aku bahagia, saat bisa membuatnya kembali tersenyum.
***
”El, ikut aku!” Ajak En singkat, ia buru-buru menggandeng tanganku. ”Mau kemana En?” tanyaku heran. ”Udah...ikut saja !” Jawabnya enteng sambil terus menarikku keluar kelas. Kami menuju Ruang OSIS. Ternyata ia merekomendasikan aku sebagai Wakil OSIS. Aku terkejut, ”En kamu apaan sich?” bisikku pelan. ”tenang saja”, jawabnya.
Hanya ada anggota OSIS di Ruangan itu, dan semuanya berasal dari kelas dua alias kakak kelas. Aku dan En bergantian mengenalkan diri. Entah keberanian darimana? Aku bisa dengan sebegitu Pdnya ’mejeng’ depan para kakak kelas. Namun yang kutahu adalah aku hanya melakukan hal yang sama dengan En.
Sekian waktu berlalu, akhirnya kami resmi menjadi anggota OSIS, tentunya setelah pelantikan. Aku mulai belajar organisasi.
”Hehehe...senyum donk !” Sapa En, yang melihatku lumayan aneh (muram) dalam kelas. Ia pun tersenyum lebar, gigi gingsulnya menambah pesona kecantikannya.
”Yeyh..iya...iya...aku senyum,” jawabku. Semoga ini bukan senyuman yang terpaksa, pikirku dalam hati. Gimana mau senyum? Aku sama sekali tak tahu apa itu organisasi (yang ku tahu cuma suka ngumpul). Tapi kenapa nih hati benar-benar ingin mencobanya. Tak terasa aku tersenyum sendiri. ”Eh...eh...malah senyum-senyum sendiri !” Celetuk En. Hahaha jadi malu aku.
***
Pagi ini cerah sekali, udara sekolah terasa sejuk merasuk hidungku. Semangat baru menyambut pagiku sudah menanti. Aku segera duduk di bangku kesayanganku. Tak terasa tiga tahun sudah aku menjadi ’penghuni’ setia bangku ini bersama En.
Namun, pagi ini bukanlah pagi yang elok bagi En. Ia datang dengan mata berkaca-kaca, aku tahu ia sedih pagi ini.
”En ada apa?” tanyaku, setelah ia duduk di sampingku. Tapi lagi-lagi ia menarikku keluar kelas tiba-tiba, sama seperti dua tahun silam. Kali ini bukan ke Ruang OSIS, melainkan ke Toilet guru. Kembali ia memecahkan tangisnya sebelum ia berbicara atau sekedar curhat. Aku hanya diam, menunggunya cerita dan melihat derasnya air mata yang mengalir melewati pipinya.
”El, aku gak suka kamu berteman dengan Dia. Kamu lebig punya banyak waktu dengannya daripada denganku. Aku kecewa.” Ternyata ia sedang marah, tapi ia memelukku.
En, memang seorang yang egois. Tapi dari sifat itulah ia menunjukkan bahwa ia benar-benar tak pernah ingin kehilanganku. Awalnya aku memang menganggap ini lucu. Namun tiba-tiba aku ikut meneteskan air mata. Sejauh ini, hanya dia yang egois merebutku seperti itu. Hahaha Dasar ! Aku menangis terharu. Aku baru sadar, bahwa aku melewatkan waktu tanpanya.
”Maafkan aku”.En tersenyum melihatku. Sejenak kami berpelukan sebelum akhirnya kembali ke kelas dalam keadaan mata sembab.
Kami berdua memang sangat terkenal dengan ’sepasang sahabat’ cengeng. Setiap hal berakhir dengan tangisan. Sampai-sampai Bu guru mengatakan bahwa ini adalah hal terkonyol, tapi emang bener sich !
***
Suatu hari En pernah bertanya padaku.
”El, mengapa sampai di tahun ke-3 ini kamu masih sebangku denganku?” Pertanyaannya memang sangat biasa, tapi terasa begitu dekat denganku. Aku mmenjawabnya dengan senyum, ”Pertama, tak ada yang mau sebangku denganmu. Kedua, kamu hanya mau sebangku denganku. Hahaha...”
”Hahaha...benar. Kamu benar El. Hahaha...”

Senin, 17 Mei 2010

AYAH NAYLA


Tiba-tiba saja air mata Nayla tumpah. Gadis tujuh belas tahun itu tak sanggup lagi menahan haru yang menjalari fikirnya. Hari itu ia terpilih menjadi bintang sekolah karena prestasi-prestasinya. Puluhan ucapan selamat telah ia terima. Prestasi akademisnya sangat dibanggakan oleh teman-teman, juga guru-gurunya.
“Nay, selamat ya ! pertahankan prestasimu.” Ucap salah seorang guru.
“Nay, semoga tetap jadi yang terbaik.” Ucap guru lainnya.
Sebenarnya hal itu bukanlah hal yang pertama dialami Nayla, tapi hari itu benar-benar hari yang istimewa baginya. Karena sosok yang sangat ia banggakan, menyaksikan secara langsung, apa yang membuatnya bahagia, dan Nayla menyebutnya Ayah.
Sosok laki-laki bertubuh kecil dan berkulit kehitaman itu hanya duduk dan memperhatikan Nayla dari kejauhan. Matanya berkaca-kaca. Ia tak membiarkan butiran air matanya jatuh, walau hanya setetes. Namun di dadanya ia rasakan sesuatu yang sangat hebat. Ia ingin berteriak dan berlari menggendong putrinya itu. Sama dengan yang ia lakukan dua belas tahun silam. Ketika ia melihat putrinya berhasil menaiki sebuah sepeda. Namun kini, ia harus menahan rasa bahagianya dengan hanya memandangi kagum dari kejauhan.
Nayla sangat mengerti dan mulai menyadari, bahwa dari ayahnyalah ia bisa seperti sekarang ini. Betapa ia sangat mengingat, ketika ia belajar di masa-masa TK danSD-nya. Setiap hari ia harus menangis karena ia merasa tak pernah mau belajar, tapi ayahnya selalu mendampinginya dan terus membimbingnya belajar. Nayla yang bandel merasa kalah oleh ayahnya dan hanya bisa menuruti ayahnya untuk belajar dan tentunya sambil menangis.
Menginjak usia delapan tahun, Nayla menpunyai tugas double dari ayah tercintanya. Sebelum belajar pelajaran sekolah, ia harus bisa melancarkan bacaan-bacaan Al-Qur’an. Hal-hal seperti itu adalah hal paling menyebalkan di hari-hari Nayla. Namun, itu menjadi hal yang sangat dirindukannya kini.
Sang ayah mengerti, bahwa putrinya adalah seseorang yang tegar dan cerdas dalam memahami setiap pelajaran yang peroleh dari teladan-teladan ayahnya.
Ya. Itulah setidaknya yang selalu dilakukan oleh ayah Nayla yang tergolong orang pendiam. Ia hanya mengucap satu atau dua kalimat untuk membimbing dan mengingatkan putrinya. Selanjutnya, ia memberi kesempatan kepada Nayla untuk menerjemahkan sendiri apa yang dimaksud sang ayah. Tentunya hal ini dilakukan ketika Nayla memasuki usia tiga belas tahun. Nayla bangga memiliki ayah seperti ayahnya. Ia juga sangat bahagia punya ibu seperti ibunya. Keduanya memberi peran luar biasa dalam kehidupannya.
Nayla berjalan mendekati ayahnya. “Sayang ya Yah, hari ini ibu gak bisa datang. Betapa bahagianya ibu jika ia bisa datang dan mendampingi ayah .” Ucap Nay pada ayahnya. Harapan ibunya akan datang sangat besar.
“Iya Nak, ibu hari ini kan bekerja, ibu tidak bisa izin.” Jawab ayah Nay menatap putrinya.
Nayla tidak bisa menyalahkan ibunya. Justru ia sangat bangga pada wanita itu. Darinyalah ia mengerti arti kerja keras dan paham apa arti pengorbanan.